Berkawan dengan Lawan
F oto: Unsplash.com/Marco Bianchetti Jari-jemariku menyelami beranda media sosial, menyaksikan unggahan dari kehidupan para milenial. Yang terkadang tak habis pikir kumelihatnya. Mereka memamerkan kebodohannya untuk memperoleh eksistensi semata. Tanpa memikirkan risiko setelahnya. Lain lagi dengan sebagian milenial yang menggunakan media sosial untuk memamerkan prestasinya. Sering kali aku menjadi tak percaya diri setelah melihat pencapaian yang mereka peroleh. Unggahan karya-karya yang menarik perhatian hingga mendapat beasiswa ke Negeri Jiran, membuat diriku merasa tertinggal jauh dari teman-temanku. Lawan terbesarku berada di dalam tubuh ini, yaitu rasa tak percaya diri. Ketika kuingin membuat sesuatu atau sekadar ingin mengunggah karyaku, rasa tak percaya diri itu selalu menikam dan membuat tanganku melepaskan hal yang sedang kugenggam. Aku merasa karya-karyaku masih jauh dari kata layak. Berbeda dengan mereka yang selalu disukai oleh khalayak. Lambat laun aku tersadar. Rasa ...